Hot News on PPNI Aceh Utara :
  • Apa Itu PPNI Dan Mengapa Seluruh Perawat Wajib Menjadi Anggota PPNI
  • UU Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan
  • Seminar Keperawatan
  • PPNI Aceh Utara & Kota Lhokseumawe melakukan doa bersama
Selamat Datang Pengunjung |
Video Kegiatan
  • CARA UPLOAD SKP PKB ONLINE PPNI
  • HUT PPNI KE 43 KABUPATEN ACEH UTARA
  • Memindahkan Pasien
  • MARS PPNI
  • Sholawat Nabi yang bikin nangis
  • Pemasangan Infus
  • Promosi Kesehatan PHBS
  • Atlit Tenis Meja PKM Simpang Keuramat
  • Info Kesehatan Bahaya Di Kamar Tidur
  • Prime Product - North Aceh Investment Profile
  • Mubahasah Ulama Aceh Terbaru Tentang Persoalan Umat Islam Saat Ini
  • Kehidupan Perawat Indonesia Di Jepang
Login Anggota
Anda belum punya Akun ? Klik disini
Statistik Pengunjung Tahun 2021
Pengunjung Hari ini :
15
Total Pemgunjung :
63450
Hit hari ini :
42
Total Hits :
316793

316793

Fenomena Status Gizi Ibu Hamil

Jumat, 22 Januari 2016 | 11:05:00 Dibaca: 1417 kali | 2 komentar | Share
Berita Lainnya

Oct 27, 2015

Pertumbuhan dan perkembangan anak sejak masih janin ternyata dipengaruhi tidak hanya oleh status gizi si ibu saat hamil, bahkan sejak sebelum hamil atau remaja. Ibu hamil yang kurang energi kronis (KEK) dapat melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah (BBLR) karena kurus, pendek atau keduanya. Teori Barker menyebutkan, gangguan pertumbuhan janin di dalam kandungan berisiko jangka panjang terjadinya penyakit degeneratif pada usia dewasa.

Hal tersebut menjadi salah satu temuan Studi Tumbuh Kembang Anak yang dilakukan Badan Litbang Kesehatan sejak tahun 2012. Berikut beberapa temuan dari studi di 5 kelurahan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor yang melibatkan 401 ibu hamil dan 403 anak ini hingga tahun 2014.

Temuan pada ibu hamil
1. Sebanyak 18,9% ibu, hamil pada umur berisiko (< 20 tahun dan ≥ 35 tahun).
2. Rerata pertambahan berat badan selama kehamilan 9,8 kg. Pertambahan berat badan ibu selama kehamilan lebih rendah dari anjuran Institut of Medicine (IOM).
3. Pertambahan berat badan ibu beresiko selama kehamilan lebih rendah daripada ibu normal/tidak beresiko.
4. Konsumsi energi, protein dan zat gizi mikro (asam folat, Fe, Zinc) ibu hamil pada trimester I, II dan III kurang dari anjuran (AKG 2004).
5. Ibu hamil kurang mengkonsumsi makanan yang beragam, lebih banyak membeli makanan matang dengan kuantitas dan mutu gizi rendah.
6. Ibu yang mempunyai IMT pra hamil < 18,5 kg/m2 secara bermakna berisiko 3,6 kali untuk melahirkan bayi dengan berat lahir < 3000 gram dan ibu dengan tinggi badan < 150 cm secara bermakna berisiko 3,4 kali melahirkan bayi dengan panjang lahir < 50 cm.
7. Hasil analisis dalam studi ini menunjukkan bahwa IMT ibu pra hamil sebagai faktor risiko utama pertambahan berat badan selama kehamilan. Ini berarti ibu hamil yang sebelum hamil status gizinya kurus (IMT < 18,5 kg/m2) berisiko 3 kali mengalami pertambahan berat badan di bawah normal selama kehamilan (< 9,8 kg).

Temuan pada Bayi/Anak
1. Bayi BBLR ( 2. Pertumbuhan bayi menurut pencapaian berat dan panjang badan lebih rendah dari standar WHO 2005 dan penyimpangan ke bawah dimulai ketika bayi berumur 2 bulan. Pada umur 13 bulan berat badan anak lebih rendah 1 kg dan panjang badan anak lebih rendah 3,5 cm dari standar WHO 2005.
3. Sampai dengan umur 23 bulan, sepersepuluh bayi penelitian ini, sedikitnya sekali pernah menderita sakit batuk dan seperlimanya pernah menderita sakit pilek dengan lama sakit 4 hari. Ada 7 anak berpenyakit jantung, 1 anak gizi buruk dan 1 anak sangat pendek.
4. Sekitar 40% anak, semua aspek perkembangan (kognitif, bahasa, motorik) terlambat dibawah usia nya, dan sudah mulai terjadi sejak umur kurang dari 6 bulan.

Rekomendasi
1. Pemerintah daerah setempat perlu meningkatkan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat (Posyandu) bagi calon ibu hamil dan remaja, khususnya ibu hamil dengan ukuran antropometri berisiko dengan cara:
a. Mensosialisasikan kepada calon ibu juga remaja putri tentang ukuran antropometri yang berisiko pada pertambahan berat badan selama kehamilan, berat dan panjang bayi lahir.
b. Melakukan pemantauan pertambahan berat badan ibu hamil, khususnya ibu hamil dengan ukuran antropometri berisiko yaitu tinggi badan < 150 cm, berat badan pra hamil < 45 kg, IMT pra hamil < 18,5 kg/m2 dan ibu yang berisiko kurang energi kronis (KEK).
2. Untuk bayi yang lahir dengan berat lahir < 3000 gr dan panjang lahir < 50 cm perlu stimulasi pengasuhan sejak dini agar gangguan perkembangan berkelanjutan dapat dicegah.
3. Menggalakkan pola makan yang baik, dengan mengkonsumsi makanan yang lebih bervariasi dan bergizi, serta tidak terlalu mengandung garam tinggi.

Sumber : Hasil Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor Tahun 2012-2014 oleh Dr. Ir. Anies Irawati, M.Kes dan tim
Kontak : irawati.anies@gmail.com/0811110142
Editor : Novi Budianti

Nama Lengkap :
Email :
Komentar Anda :
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.