Hot News on PPNI Aceh Utara :
  • Apa Itu PPNI Dan Mengapa Seluruh Perawat Wajib Menjadi Anggota PPNI
  • UU Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan
  • Seminar Keperawatan
  • PPNI Aceh Utara & Kota Lhokseumawe melakukan doa bersama
Selamat Datang Pengunjung |
Video Kegiatan
  • CARA UPLOAD SKP PKB ONLINE PPNI
  • HUT PPNI KE 43 KABUPATEN ACEH UTARA
  • Memindahkan Pasien
  • MARS PPNI
  • Sholawat Nabi yang bikin nangis
  • Pemasangan Infus
  • Promosi Kesehatan PHBS
  • Atlit Tenis Meja PKM Simpang Keuramat
  • Info Kesehatan Bahaya Di Kamar Tidur
  • Prime Product - North Aceh Investment Profile
  • Mubahasah Ulama Aceh Terbaru Tentang Persoalan Umat Islam Saat Ini
  • Kehidupan Perawat Indonesia Di Jepang
Login Anggota
Anda belum punya Akun ? Klik disini
Statistik Pengunjung Tahun 2021
Pengunjung Hari ini :
15
Total Pemgunjung :
63450
Hit hari ini :
48
Total Hits :
316799

316799

MAYAT KORBAN HIV-AIDS DIMUMIKAN DI THAILAND (Tulisan ini sudah pernah terbit di koran serambi 9 April 2016 di kolom Citizen Reporter)

Senin, 11 April 2016 | 10:04:59 Dibaca: 2116 kali | 7 komentar | Share
Berita Lainnya

Coursework sudah berlalu. Kini saatnya riset Tesis sebagai syarat wajib bagi setiap Mahasiswa postgraduate untuk mendapatkan gelar Master. Pada tahap ini, umumnya mahasiswa postgraduate tidak lagi belajar dikelas, hanya fokus pada pengerjaan Tesis yang dibimbingoleh satu atau dua orang pembimbing. Beruntung sekali saya mendapatkan seorang pembimbing Tesis seorang Professor yang expert di bidang HIV-AIDS. Sembari mengerjakan Tesis sendiri, saya diundang oleh sang Professor untuk ikut terlibat dalam proyek besar penelitian tentang HIV-AIDS di Thailand yang di sponsori oleh Chulalongkorn University.

Proyek penelitian experimen pada penderita HIV-AIDS ini dimulai sejak Januari 2016 yang hingga saat ini masih berlangsung dengan target selesai bulan Juni 2016, berpusat di Rumah Sakit Bangrak Hospital Bangkok. Berbeda dengan rumah sakit pada umumnya, rumah sakit ini adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan khusus hanya untuk penderita dengan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual saja, seperti penyakit sifilis (penyakit raja singa/kencing nanah), herpes simplex kelamin dan HIV-AIDS. Selama penelitian berlangsung, saya diundang untuk magang di rumah sakit tersebut. Suatu kesempatan langka bagi saya pribadi dapat menimba ilmu lebih mendalam tentang penyakit HIV AIDS langsung dari pakar-pakar yang kompeten dibidang HIV-AIDS yang tidak akan saya dapat di Indonesia mengingat hingga saat ini di Indonesia belum ada rumah sakit khusus untuk penderita HIV-AIDS.

Banyak pengalaman juga ilmu baru yang  didapatkan selama magang dan terlibat dalam riset HIV-AIDS. Salah satunya adalah bagaimana mengembangkan sebuah rumah sakit khusus untuk penderita HIV-AIDS, fasilitas dan peralatan yang dipakai serta manajemen penyakit infeksi menular seksual yang berstandar internasional. Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika tim riset melakukan survey ke Wat Phra Bat Nam Phu, Lopburi, Thailand. Wat Phra Bat Nam Phu ini sejarahnya adalah sebuah kuil Buddha yang sejak tahun 1990 berubah fungsi menjadi tempat penampungan penderita HIV positif  di Thailand. Letaknya sebelah Timur Laut 150 kilometer kira-kira 3 jam perjalanan darat. Saat ini dari Bangkok. Wat Phra Bat Nam Phu saat ini menampung lebih kurang 500 orang penderita HIV positif. Penderita umumnya adalah laki-laki, wanita tunasusila (WTS), perempuan yang tertular virus HIV dari suami ataupun pacar, kelompok dengan perilaku resiko tinggi (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender = LGBT), dan anak-anak karena tertular oleh orangtuanya. Di tempat penampungan ini, para penderita HIV-AIDS yang masih sehat disediakan rumah gratis untuk ditempati. Sedangkan bagi penderita yang membutuhkan perawatan, disediakan ruang rawatan yang mampu menampung pasien sebanyak 150 bed. Fasilitas dan perawatan diberikan cuma-cuma kepada seluruh penderita. 

Didalam area penampungan, terdapat sebuah museum yang bernama Life Museum. Dari nama museumnya sekilas terlihat dari luar tidak ada yang aneh dari museum ini. Namun alangkah terkejutnya saat kaki saya melangkah kedalam museum ternyata isi museum jauh sekali bertolak belakang dari namanya “life museum = museum kehidupan”. Didalam Museum terdapat mayat-mayat yang diawetkan atau mummi yang terpajang didalam kotak kaca. Mummi-mummi di dalam kaca tersebut ada yang diletakkan dalam posisi berdiri, dan ada yang diletakkan dalam posisi tidur. Yang lebih mengerikan lagi ketika saya membaca keterangan yang ditempel pada masing-masing kotak bahwa mummi-mummi didalam museum adalah mayat-mayat tubuh pasien yang diawetkan setelah meninggal karena penyakit HIV-AIDS. Awalnya saya tidak yakin kalau mayat-mayat tersebut adalah mayat tubuh asli penderita HIV-AIDS yang diawetkan setelah meninggal, demikian juga dengan pengunjung lain yang baru pertama kali datang ke meseum ini juga bertanya-tanya tentang keaslian tubuh mummi. Namun setelah mengkonfirmasi ke kurator museum, saya baru benar-benar percaya bahwa tubuh yang diawetkan adalah benar-benar tubuh mayat para penderita yang meninggal karena HIV-AIDS. Masih tampak jelas otot-otot mayat yang telah menghitam akibat proses pengawetan. Jenis kelamin mummi dapat dengan mudah dikenali oleh pengunjung karena tubuh mummi tidak ditutupi kain apapun. Sebagian besar mummi adalah mantan kelompok dengan prilaku resiko tinggi tertular HIV-AIDS yaitu mantan PSK dan kaum LGBT. Pemandangan menyedihkan ketika saya menyaksikan satu mummi bayi berusia 8 bulan yang meninggal karena positif tertular virus HIV dari ibunya. Terbersit dalam fikiran saya, mengapa tega pihak museum mengawetkan mayat-mayat yang dimana mereka sudah sangat menderita disaat berjuang dengan penyakit HIV-AIDS dimasa hidupnya.

Dari penuturan Professor pembimbing saya, museum ini didirikan untuk memberi pelajaran dan peringatan kepada masyarakat bahwa begitu berbahayanya penyakit HIV-AIDS yang hingga kini belum ada obatnya, dan betapa menderitanya para penderita HIV-AIDS semasa hidup dan matinya. Selain itu juga untuk memberi efek jera sehingga diharapkan dapat mengurangi perilaku sex bebas juga perilaku resiko tinggi tertular virus HIV, yang pada akhirnya diharapkan dapat menurunkan kasus HIV-AIDS di Thailand. Data terakhir tahun 2014 dari UNAIDS lembaga dunia yang menangani epidemik HIV, bahwa jumlah penderita di Thailand yang hidup dengan diagnosa HIV positif cukup tinggi yaitu 490.000 orang. Dari angka tersebut, sebagian besar adalah orang dewasa yang berumur 15 tahun ke atas yaitu 440.000 orang, anak-anak 0-14 tahun sebanyak 6.900 orang. Sedangkan jumlah kasus yang meninggal karena AIDS adalah 19.000 kasus. Di Rumah Sakit Bangrak tempat saya magang, dipoliklinik rata-rata melayani pasien HIV positif sebanyak 500 pasien. Menurut sumber yang saya peroleh dari Rumah Sakit Bangrak, Thailand telah meluncurkan strategi nasional tahun 2012-2016 untuk menekan kasus HIV-AIDS yang kenal dengan program “AIDS Zero”. Program AIDS zero ini terdiri dari tiga aspek yaitu Zero new HIV infection (Nol/tidak ada kasus baru), Zero AIDS-related deaths (Nol/tidak ada kematian karena AIDS), dan Zero discrimination (Nol/tidak ada diskriminasi).   

Di Indonesia, prevalensi HIV juga cukup tinggi yaitu 660.000 kasus (UNAIDS, 2014). Untuk provinsi NAD hingga September 2014 tercatat sebanyak 193 orang kasus AIDS (Depkes, 2014). Angka ini tidak termasuk yang kasus tidak terdiagnosis. Kasus tertinggi di Kabupaten Aceh Utara dengan 47 orang penderita HIV-AIDS (Serambi Indonesia, Senin, 23 November 2015). Mengingat tingginya kasus baru HIV-AIDS di Aceh, upaya pencegahan pencegahan yang dapat diterima oleh masyarakat harus dilakukan secara intens dengan cara memberikan penyuluhan untuk menekan prilaku resiko tinggi didalam masyarakat seperti perilaku sex bebas, prostitusi terselubung, dan LGBT yang saat ini isunya sedang sangat hangat dibicarakan. Disamping itu screening dengan cara jemput bola perlu dilakukan mengingat stigma buruk dan memalukan bagi penderita HIV-AIDS masih sangat tinggi dalam masyarakat, sehingga masyarakat enggan untuk memeriksakan diri mendatangi pusat-pusat pelayanan kesehatan.

 

 

 

Oleh : Zamna Idyan

Penulis adalah Pengurus aktif PPNI Aceh Utara, Mahasiswa Master of Nursing Science Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand.

Mahasiswa Tugas Belajar Aceh Utara, Penerima Beasiswa ASEAN Scholarship tahun 2014.

 

Nama Lengkap :
Email :
Komentar Anda :
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.